?

Log in

 
 
19 November 2009 @ 07:55 pm
 
hello my journal and my f-list, too *hugs you all*
it's been a long time nee
i never updated my journal because my fandom is all change hahahahahaha

now, i wanna share you *indo only, sorry* my short story that i have done for short story competition in my school
i made a promise to post it here when i ready hehehe
*intermezo mode: ON* tadi ke perpus pas pelajaran bahasa indo. biasalah suruh nyari cerpen gitu. kebiasan gw kalo di perpus adalah ngobrol2 ama pak zolvi. mumpung lagi ngobrol, gw tanyalah pada si bapak, "pak, kok yang menang lomba cerpen anak kelas 1? emang bahasanya sastra banget ya?"
"nggak kok. tapi karena temanya ngena" jawab pak zolvi singkat
gw cuma oooh doang. tapi emang bener sih, kan anak kelas 1 sama kelas 2 dan kelas 3 beda cara berpikirnya.
trus pak zolvi bilang, "dhan, cerpenmu peringkat 5 lho"
gw yang terkejut secara spontan mengatakan, "hah?! kok bisa?!"
jujur aja gw kaget banget!!! ya iyalah kaget! gimana nggak? pas gw tau ternyata karya gw dibilang sama pak zolvi kalo judulnya ga berbobot aja gw udah down. tapi ya gw ikhlasin aja, mungkin Allah punya jalan lain *positif thinking mode*. alhamdulillah, sifat gw yang positif thinking dan nerima apa adanya ini membuahkan hasil juga meski yah hanya segelintir orang yang tau. hahahahahaha!!!
kalo ngobrol ama pak zolvi masalah nulis tu enak. dikasih tips2 berharga dari yang sepele kayak ngasih judul sampe yang ribet kayak pengembangan tema. pak zolvi bilang, "kan temanya perjuangan, kalo ngeluh berarti tema itu sudah tidak berarti lagi."
iya juga sih ya. pokoknya kalo ngomongin masalah tulis menulis ama pak zolvi tu paling top deh!!!

komen ya kalo bisa :)

Respati Kusumawardhani

XII IPS 1

Menulis adalah Hidupku

Siang itu matahari bersinar sangat cerah. Seorang remaja perempuan sedang duduk-duduk dibawah pohon untuk berteduh. Remaja itu membawa sebuah buku tulis. Ia memandang ke luar, melihat apa yang terjadi di sekitarnya, lalu menuliskannya. Ia rangkai apa yang ia lihat itu menjadi sebuah karangan. Ia tahan berlama-lama di bawah pohon untuk mendapatkan sebuah inspirasi.

“Arini!” panggil seorang cowok yang nggak jauh dari tempat si gadis itu berada.

Gadis itu bernama Arini. Kelas 2 SMA. Cita-citanya jadi penulis. Ia menekuni bidang menulis sejak SD, berawal dengan menulis buku harian. Saat SMP, ia mencoba membuat sebuah cerita remaja. Karena malu, karyanya hanya dikonsumsi oleh teman-temannya. Arini tidak begitu cantik, tapi ia memiliki seorang kekasih yang selalu menemaninya kapan saja dan di mana saja bernama Edo.

“Eh, Edo. Kok tahu aku di sini?” tanya Arini dengan senyum kecil dari bibirnya.

“Kalo nggak di sini emang di mana lagi? Hehehe!” jawab Edo, “wah, cerita baru lagi?”

“Nggak baru sih. Sebenernya lanjutan, cuma inspirasinya aja yang baru.” kata Arini sambil menutup bukunya.

“Kamu tertarik kalau ceritamu diterbitkan?” tanya Edo dengan nada pasti.

“Pengen sih. Tapi...” jawab Arini sambil menghembuskan nafas dengan berat.

“Tapi kenapa?” tanya Edo lagi.

“Orang tuaku nggak mau aku jadi penulis. Pokoknya harus belajar. Kerja tuh nanti aja abis kuliah. Begitu kata mereka.” jelas Arini, “padahal, nggak ada salahnya juga kan mencoba hal-hal baru yang bisa menghasilkan sesuatu yang halal. Ya nggak?”

“Setuju!” seru Edo menyetujui perkataan Arini.

Arini yang gemar menulis tetap berprestasi di sekolahnya. Meski sudah memenuhi janji kepada orang tuanya, tetap saja ia tidak mendapatkan izin untuk menjadi penulis. Padahal kegemarannya menulis itu bisa menghasilkan uang. Bisa membantu meringankan beban orang tuanya dalam hal bayaran sekolah atau uang saku.

***

Di sekolah, Arini paling suka berada di kelas karena ia bisa mengobrol dengan teman-temannya. Dari obrolannya itu biasanya inspirasi untuk menulisnya datang. Teman-temann Arini adalah pembaca setia karya-karyanya. Tidak bosan-bosan mereka membacanya meskipun diulang berkali-kali. Mereka juga selalu memberikan semangat kepada Arini bahwa hobinya ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik.

“Arini, kenapa lo nggak bikin novel aja? Kan seru bisa diterbitin dan abis itu lo dapet royalti.” kata Fadila, teman Arini.

“Gue nggak dapet restu dari orang tua gue.” kata Arini dengan nada sedih.

“Susah juga sih ya kalo nggak dikasih semangat dari keluarga sendiri.” kata Sasa, teman Arini juga.

“Kalo di keluarga gue sih, kakak sama adek gue suka baca. Sepupu-sepupu juga pada suka kok baca karyaku.”

“Gimana kalo lo ngirim ke redaksinya diem-diem aja? Si Edo kan kakaknya editor novel tuh. Bisa lah lo manfaatin.” kata Fadila.

“Eh? Nggak ah! Nggak berani gue!” tolak Arini.

“Arini, kalo punya kesempatan ya dimanfaatin dong! Masa mau lo buang begitu aja?!” seru Sasa memotivasi Arini.

“I..iya juga sih.” kata Arini yang mulai sadar kalau ia selama ini sudah membuang banyak sekali kesempatannya untuk menjadi penulis seperti yang ia cita-citakan.

“Tapi lo pikir-pikir aja dulu. Semua itu pasti ada prosesnya, Rin!” kata Fadila.

“Oke! Makasih ya sarannya! Tampaknya aku mulai tertarik untuk membuat sebuah gebrakan baru!” seru Arini dengan nada dan wajah yang antusias.

***

Sebulan kemudian, ia sudah menyelesaikan novel yang akan ia terbitkan. Semua modalnya dari dia sendiri. Orang tuanya tidak memberikan sepeser pun meski itu hanya untuk menjilid.

“Kamu masih mau jadi penulis?” tanya Ayah.

“Iya, Ayah. Ini memang sudah cita-citaku dari kecil.” jawab Arini dengan nada tegas tapi tetap sopan.

“Tapi jadi penulis itu nggak bisa dapet duit banyak lho! Temen ibu aja yang penulis nggak kaya-kaya juga tuh!” kata Ibu.

“Tapi aku yakin karyaku ini bisa laku! Siapa tahu bisa jadi Best-Seller!” kata Arini dengan nada meyakinkan.

“Kalau misalnya tidak laku?” tanya Ayah.

“Aku yakin pasti bisa! Aku nggak akan menyerah! Kalau karya pertamaku tidak terlalu laku, aku bisa mengirimkan yang lainnya.” jawab Arini.

“Pegang omongan kamu! Kamu harus bertanggung jawab dengan masalah ini. Mengerti?!” seru Ayah dengan nada membentak.

“Mengerti.” jawab Arini

“Jika kamu gagal, apa bentuk tanggung jawabmu?” tanya Ibu.

“Arini tidak akan pernah menyerah dalam meraih cita-cita Arini, Bu. Jika yang ini gagal, aku akan mencoba membuat yang lebih baik lagi.”

“Jika semuanya gagal?” tanya Ibunya lagi.

“Aku akan berhenti menulis.” kata Arini dengan yakinnya mengatakan hal itu meski hati terasa seperti ditusuk 1000 pedang.

“Pegang omongan kamu, Arini! Kamu berjanji bahwa jika kamu gagal, kamu akan berhenti menulis.”

“Ya!”

Arini pergi bersama Edo untuk menemui kakaknya Edo yang seorang editor novel. Mereka janjian di kafe terdekat untuk mengurusnya.

“Selamat siang.” sapa Adi, kakaknya Edo yang akan menjadi editor untuk novel Arini.

“Selamat siang. Saya Arini.” sapa Arini dengan senyumnya.

“Bisa saya lihat cerita kamu?”

Arini memberikan yang sudah di-print agar tidak terlalu ribet dibaca. Beberapa menit kemudian Adi selesai membacanya dan mulai berkomentar yang pedas. Tapi itu dijadikan motivasi untuk Arini.

“Cerita kamu ini masih belum ada apa-apanya untuk diterbitkan. Coba deh kamu kembangin lagi ceritanya. Secara tema sudah bagus, tapi cakupannya masih terlalu sempit. Kalau kamu kembangkan lagi, novelmu akan lebih layak untuk diterbitkan.” komentar Adi mengenai cerita yang dibuat oleh Arini, “saya kasih kamu waktu satu bulan lagi untuk menyelesaikan ceritamu. Saya harap ceritamu bisa lebih bagus dari yang sekarang.”

“Terima kasih banyak, Kak!” kata Arini dengan penuh semangat.

“Semoga berhasil ya!” kata Adi memberikan motivasi kepada Arini.

Setelah pertemuannya dengan sang editor, Arini mulai mengembangkan ceritanya agar menjadi lebih bagus lagi. Dengan support dari kakak, adik, sepupu-sepupu, pacar, dan teman-temannya ia berhasil menyelesaikannya dalam waktu 2 minggu. Dia berpikir bahwa orang-orang di sekitarnya adalah inspirasinya dalam mengembangkan novelnya ini. 2 bulan kemudian, novel Arini terbit. Ia merasa senang sekaligus gugup. Dalam waktu 6 bulan, novelnya menjadi best-seller. Ia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena diberikan anugerah yang tidak terhingga. Akhirnya, orang tua Arini merestui anaknya untuk menjadi seorang penulis. Arini tidak berhenti begitu saja, malah ia jadi lebih semangat untuk menulis lagi.

***

dou ya? judulnya sangat tidak berbobot kan?? komento wo kaite kudasai! m(_ _)m
arigatou gozaimashita!!! \(@^o^@)/
Tags: ,
 
 
Current Location: rumah
Current Mood: accomplishedaccomplished
Current Music: Hyoutenka no Jounetsu - Hyoutei B
 
 
 
(Deleted comment)
zeroxasuzakuzeroxasuzaku on November 19th, 2009 02:10 pm (UTC)
iyaaa. JE cuma nempel di MSM sama eito doang hahahaha

sankyuu udah komen, putri *peluk2*
iya nih hepi ending hahahaha
(Deleted comment)
zeroxasuzakuzeroxasuzaku on November 19th, 2009 02:46 pm (UTC)
iya. hehehe
fanfic udah banyak, sekali2 nulis buat lomba di sekolah boleh juga dicoba hehehe

aku sekarang tergila2 ama tenimyu. abis ganteng2 LOL
「cella」: Yasu and doggienatsucchi on November 19th, 2009 02:15 pm (UTC)
bagus kok dhan =3
tapi kok pas udah di akhir gitu kesannya jadi ngebut banget ya? XD
zeroxasuzakuzeroxasuzaku on November 19th, 2009 02:47 pm (UTC)
halamannya dibatasin jadi harus ngebut -____-
.happypurinsu on December 31st, 2009 12:35 pm (UTC)
Hi there, and welcome to BLUSH♥BOYS [Ikemen no Sekimen]!
Just wanted to greet you~ ^.^

Look around, and post comments & BL-stuff~ and if you have any questions, feel free to ask ~.^

VERY IMPORTANT!
Please read and post a comment here:
http://community.livejournal.com/ikemennosekimen/47407.html
If you don't, you'll get deleted... sorry, it's a check-thing ^.^'

~ Sincerely, Chrisa [HappyPurinsu] - founder of BxB [InS]

*Sorry about writing it here - but because of all the members joining lately, I have reached my limits about sending messages ^.^'